Minggu, 22 Januari 2023

Belajar Menulis Buku Mayor

 


Judul               : Belajar Menulis Buku Mayor
Resume ke -    : 6
Gelombang      : 28
Tanggal           : 20 Januari 2023
Tema               : Menulis Buku Mayor dalam Dua Minggu
Narasumber     : Prof. Richardus Eko Indrajit
Moderator       : Aam Nurhasanah

 

Hari beranjak senja
Mentari mulai terbenam
Selamat berjumpa
Di resume yang keenam

 

Narasumber kali ini adalah seorang yang luar biasa kiprahnya dalam dunia pendidikan. Sudah tidak asing dan berperan penting dalam pembelajaran jarak jauh selama pandemi ini. Beliau adalah Prof. Richardus Eko Indrajit. Beliau adalah seorang penulis besar yang bisa mengantarkan mimpi para guru untuk menuju penerbit mayor.

Pada pertemuan ini Prof. Eko membagikan pengalamannya menjadi penulis dari buku mayor, buku yang diterbitkan oleh penerbit nasional. Ada kurang lebih 121 buku mayor yang telah Prof. Eko tulis semenjak beliau selesai kuliah. Di samping itu, ada juga kurang lebih 623 artikel yang telah beliau tulis baik dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.

Prof. Eko senang menulis semenjak SD dan tulisan pertama diterbitkan di majalah ketika duduk di bangku SMP. Ingin membagi ide, pemikiran, gagasan, dam cerita kepada orang lain adalah alasan yang membuat beliau senang menulis sehingga menjadi ketagihan. Keinginan beliau untuk menulis semakin tinggi ketika semakin banyak membaca buku dan menonton televisi.

Buku mayor Prof. Eko pertama terbit pada tahun 2000, dua tahun setelah krisis dan reformasi. Sepuluh buku pertama adalah bunga rampai yang setiap buku terdiri dari 50 artikel dan setiap artikel berisi ringkasan satu topik yang menjadi tren saat itu. Prof. Eko tidak menduga bahwa bukunya akan dibeli begitu banyak orang sehingga membuat ketagihan menulis.

Hal lain yang memotivasi Prof. Eko untuk menulis adalah banyaknya yang mengucapkan terima kasih melalui sms ke nomor hpnya atas buku yang dibuat. Hal ini membesarkan hati dan membuat hidup terasa berguna bagi orang lain. Prof. Eko menegaskan bahwa penting menuliskan nomor hp di setiap buku yang ditulis.

Semenjak diajak oleh Om Jay, founder KBMN, Prof. Eko mengajar guru – guru untuk menulis dan tergerak untuk bereksperimen. Dari 19 buku yang sudah diterbitkan, saat ini lebih dari 60 buku karya guru – guru hebat berhasil diterbitkan oleh Penerbit Andi.

Pada pertemuan kali ini, Prof. Eko memberikan tantangan kepada peserta KBMN angkatan 28 untuk menulis buku mayor dalam 2 minggu. Tema akan diberikan. Yang penting adalah berniat serius untuk menulis. Targetnya buku sudah masuk ke penerbit untuk dikurasi sebelum Idul Fitri.

Terkait pemilihan tema, Prof. Eko memberikan tips. Jika ingin menulis buku yang diterbitkan mayor, maka harus mengikuti kebutuhan pasar. Jadi, menulis bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk orang lain. Contoh judul – judul buku yang dibutuhkan oleh sekolah – sekolah zaman sekarang adalah Classroom Design and Management, Community Based Learning, Computer-Based AssessmentCompetency-Based Learning, Computer-Adaptive Assessment, The 21st Century Learning Skills.

Untuk menulis, Prof. Eko memberi saran agar tidak perlu berpikir panjang – panjang terlebih dahulu. Memulai dari yang sederhana. Tidak menuliskan sesuatu yang tidak dimengerti dan tidak ada sumber referensinya. Prof. Eko lebih senang mengajak rekan – rekan guru untuk berjalan bersama, bukan sekedar diskusi. Diskusi dilakukan ketika menemui hambatan. Prof. Eko juga menyarankan untuk mencari judul yang anti mainstream karena penerbit mayor biasanya tidak tertarik dengan judul yang biasa – biasa saja.

Menjawab pertanyaan tentang penggunaan referensi (Afif), Prof. Eko mengatakan bahwa tidak ada aturan jumlah buku referensi yang dipergunakan. Referensi adalah bentuk penghormatan kepada karya orang lain yang butir – butir kontennya dipakai. Semakin banyak pemikiran orang lain yang dipakai, maka semakin banyak referensi yang dipergunakan.

Prof. Eko mengajak para guru bermimpi karyanya dipajang di toko buku dan bergabung dalam batch Januari Berseri yang akan menjadi workshop mingguan membuat buku mayor. Tujuannya adalah agar para guru bisa menulis, bukan sekedar tahu caranya menulis. Prof. Eko menganut konsep belajar ketika berkarya dan bukan belajar dulu baru berkarya. Untuk mengetahui yang ada di kepala penerbit mayor, Prof. Eko mengajak para guru untuk memirsa video berikut:



Pergi ke pasar dengan ibu

Beli bakmi campur bala – bala

Kali ini saya belajar lebih dahulu

Semoga di kemudian hari saya bisa mewujudkannya

Jumat, 20 Januari 2023

Menjadikan Blog Sebagai Media Pembelajaran


Judul               : Menjadikan Blog Sebagai Media Pembelajaran

Resume ke -    : 5

Gelombang      : 28

Tanggal           : 18 Januari 2023

Tema               : Blog Sebagai Media Pembelajaran

Narasumber     : Dail Ma’ruf, M. Pd.

Moderator       : Purbaniasita KS, S. Pd.

 

Buah pepaya buah mangga

Bervitamin untuk sehat

Selamat berjumpa di resume kelima

Ayo rajin menulis agar lebih bermanfaat

 

Semangaaaat...

 

Ada 3 pertanyaan yang sering muncul terkait dengan blog: Apa sih blog itu? Apa kegunaannya? Apakah blog bisa digunakan sebagai media pembelajaran? (Ma’ruf, Dail). Ketiga pertanyaan ini adalah pertanyaan yang mendasar.

Blog atau weblog pertama kali diperkenalkan oleh Jhon Barger pada tahun 1998. Weblog dikhususkan untuk istilah website yang bersifat pribadi dan sering diperbarui dari waktu ke waktu. Karena bersifat pribadi, blog dapat memuat opini dan hal – hal lain untuk mengaktualkan diri yang dikabarkan pada komunitas global.

Blog tidak berbeda dengan media sosial lainnya seperti Facebook, Instagram, email, Tik Tok, You tube. Blog dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal yang positif. 

Blog ada berbagai macam: blog pendidikan, blog sastra, dan blog pribadi. Blog pendidikan biasanya ditulis oleh pelajar atau guru. Blog sastra lebih dikenal sebagai litblog (literary blog) yang berisi masalah yang berkaitan dengan dunia sastra. Blog pribadi atau buku harian online berisi tentang pengalaman keseharian seseorang yang bisa berupa keluhan, puisi, gagasan, dan perbincangan dengan teman. Selain itu juga masih ada lagi blog bertopik, blog kesehatan, blog politik, blog perjalanan, blog riset, blog hukum atau blog laws, blog media, blog agama, blog bisnis.

Ada 5 manfaat blog bagi pendidikan. Pertama, blog dapat menjadi rumah belajar. Guru dapat berbagi dan menyalurkan kreativitasnya melalui blog ini. Kedua, blog dapat meringankan tugas dan beban guru dalam mengajar. Materi mengajar, tugas siswa, atau informasi – informasi lainnya dapat dimasukkan ke dalam blog. Ketiga, blog dapat meningkatkan minat belajar para siswa. Sebuah permasalahan atau materi pelajaran dapat diunggah ke dalam blog dengan bahasa yang lebih santai sehingga para siswa bisa blogwalking dan kegiatan belajar mengajar menjadi lebih menyenangkan. Keempat, blog dapat diakses oleh siapa pun di belahan dunia. Guru dapat berbagi materi pelajaran dengan cakupan yang lebih luas sehingga orang yang membutuhkan dapat mengakses dengan lebih mudah dan murah. Kelima, blog dapat menjadi media untuk menjalin silaturahmi. Blog dapat menjadi sarana bertemu secara tidak langsung dan berkomunikasi satu dengan yang lain.

Menurut penelitian dari Bapak Sartono dan Doktor Wijaya Kusumah, blog mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis. Dengan demikian, blog dapat dimanfaat sebagai salah satu media pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kemampuan siswa, secara khusus kemampuan menulis.

Menurut Mayor Nani, blog dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran dengan cara guru mengirimkan tugas - tuga di blog. Siswa menjawab di blog mereka masing - masing dan mengirimkan linknya di group. Siswa lain diberi tugas untuk berkunjung minimal di 2 blog temannya. Pembatasan minimal 2 blog ini didasari alasan bahwa siswa juga masih mempunyai tugas - tugas dari guru yang lain.

Materi pertemuan kelima ini sangat bermanfaat untuk seorang guru dengan narasumber Bapak Dail Ma’ruf, M.Pd yang dulunya juga peserta KBMN 20. Sudah menjadi kurator lebih dari 10 buku. Semoga pada suatu kesempatan saya dapat menerapkan ilmunya. Sebagai penutup dan penyemangat untuk terus menulis sehingga dapat menghasilkan buku, pepatah yang Pak Dail kutip “Man Jadda Wajada” - “There are a want there are a way”. I hope so.


 

Selasa, 17 Januari 2023

Bagaimana Mengubah Karya Ilmiah Menjadi Buku?


Judul               : Bagaimana Mengubah Karya Ilmiah Menjadi Buku?

Resume ke -    : 4

Gelombang      : 28

Tanggal           : 16 Januari 2023

Tema               : Menulis Buku Dari Karya Ilmiah

Narasumber     : Eko Daryono, S. Pd.

Moderator       : Nur Dwi Yanti, S. Pd.

 

Ikan giru ikan sepat

Kita bertemu kembali di resume pertemuan keempat

 

Pertemuan keempat ini menyajikan materi yang begitu menantang yaitu mengubah karya ilmiah menjadi sebuah buku. Hemm...mendengar kata ilmiah saja sudah terbayang dengan hal – hal yang njlimet, pelik, butuh waktu dan pemikiran yang ekstra.

Ibu Nur Dwi Yanti atau NDY membuka pembelajaran malam ini dengan sebuah quote dari John Maxwell yang menyuntik semangat dengan memadankan passion sebagai bahan bakar yang mengubah keharusan menjadi kemauan sehingga akan terus berusaha untuk mewujudkan keinginan. Apa ya yang aku inginkan hari ini? Cukuplah dulu menyerap ilmu dan pengalaman dari Mr. Yons atau Bapak Eko Daryono, S. Pd.

Mr. Yons sebagai narasumber pembelajaran keempat ini mengawali dengan mengajak mengingat kembali definisi karya tulis ilmiah, 2 jenis karya tulis ilmiah: KTI nonbuku dan KTI buku, dan struktur penulisan KTI. Adapun struktur penulisan KTI adalah sebagai berikut:



Selanjutnya Mr. Yons mengajak untuk melihat perbedaan antara laporan KTI dengan KTI yang dikonversi menjadi buku yang secara substansi isi tidak berbeda karena pada dasarnya isi buku akan mencerminkan keseluruhan isi laporan KTI. Perbedaanya terletak pada gaya penulisan. Sistematika KTI yang dikonversi menjadi buku  mengalami penyesuaian – penyesuaian pada penomoran tiap sub bab sehingga menjadi tidak berkesan kaku. Bahasa dalam buku juga dimodifikasi sehingga lebih luwes, lugas, dan tidak mencantumkan lagi kata – kata: penelitian ini, peneliti, teman sejawat, penulis. Berikut tabel perbedaan laporan ilmiah dengan buku.

Cara atau langkah – langkah mengkonversi KTI menjadi buku menurut Mr. Yons adalah sebagai berikut:

1.      Memodifikasi judul

Judul buku yang merupakan hasil konversi hendaknya memiliki daya tarik dan daya jual, menarik, unik,mudah diingat dan mencerminkan isi buku. Walau, kemenarikan sebuah judul buku bersifat subjektif.

2.      Memodifikasi sistematika dan gaya penulisan

Tidak lagi menampakkan sub bab – sub bab sehingga isi buku menjadi satu kesatuan dan tidak seolah – olah terpisah – pisah. Memodifikasi Bab I

Judul pendahuluan tetap boleh dipertahankan. Namun, bisa juga diganti pembukaan atau kata lain yang menggambarkan kemenarikan buku. Lebih fokus mengeksplor latar belakang dan tidak diperlukan lagi sub bab – sub bab.

3.      Memodifikasi Bab II

Menyederhanakan dengan cara mengubah sub bab – sub bab menjadi beberapa bab.

4.      Memodifikasi Bab III

Bisa ditempuh dengan benar – benar menghilangkan bab III yang berupa metode, teknik pengumpulan data, dan analisis data. Bisa juga memasukkan bab III di bab II atau menarasikan bab II di awal bab pembahasan.

5.      Memodifikasi Bab IV

Tidak lagi menggunakan judul “Hasil Penelitian dan Pembahasan”, tetapi disesuaikan dengan konteks buku. Judul buku dapat menjadi pilihan sebagai judul bab IV ini. Dalam bab ini dapat dimasukkan tabel, grafik, foto kegiatan, atau hasil penelitian yang menyatu dalam buku.

6.      Memodifikasi Bab V

Bisa tetap diberi judul penutup. Bab ini dapat berisi simpulan, rekomendasi (saran), dan ditambahkan temuan terkait dengan hasil penelitian.

7.      Memodifikasi lampiran

Data yang dilampirkan adalah instrumen penelitian yang berupa data matang yang telah diolah dan bukan data mentah.

Sementara itu, beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika mengkonversi KTI menjadi buku adalah:

1.      Keaslian laporan hasil penelitian.

2.      Menghindari kompilasi terlalu banyak

3.      Memilih dan memilah data yang dipublikasikan

4.      Modifikasi bahasa baku

5.      Menghindari pengambilan sumber berantai atau pendapat yang secara ilmiah kurang dapat dipertanggungjawabkan

6.      Untuk mendukung keabsahan, menuliskan semua daftar pustaka yang dipakai sebagai rujukan

7.      Memperhatikan kaidah penyusunan buku ber-ISBN


Ikan sepat melompat di udara

Tetap semangat untuk melanjutkan ke resume yang kelima

 

Ikan sepat ikan tuna

Salam sehat dan bahagia

 

Minggu, 15 Januari 2023

Yuk, Menggali Potensi Diri Dengan Menulis!


Judul               : Yuk, Menggali Potensi Diri Dengan Menulis!

Resume ke -    : 3

Gelombang      : 28

Tanggal           : 13 Januari 2023

Tema               : Gali Potensi Ukir Prestasi

Narasumber     : Aam Nurhasanah, S. Pd.

Moderator       : Arofiah Afifi, S. Pd.

 

Sebuah quote pembuka yang menarik dari moderator pada pertemuan ketiga Kelas Belajar Menulis Nusantara, Ibu Arofah Afifi, S. Pd, yang berbunyi “Menulis adalah suatu cara menampilkan potensi dan prestasi”. Saya sangat setuju. Potensi hendaknya dikembangkan dan ditampilkan sebagai sebuah bentuk rasa syukur dan terima kasih kepada Dia yang telah menganugerahkan potensi tersebut dalam diri.

Saya juga setuju dengan permasalahan yang diangkat oleh Ibu Moderator bahwa sering kalinya kita apriori dengan bakat dan potensi diri sehingga menimbulkan insecure dengan karya tulis sendiri. Pada pertemuan ketiga ini hal tersebut akan dikupas oleh narasumber Ibu Aam Nurhasanah, S. Pd. Beliau adalah seorang penulis handal yang telah berhasil menjadi penulis penerbit mayor dengan buku karyanya telah ada di Gramedia dan berderet prestasi lainnya.

Menurut Ibu Aam, jawaban dari pertanyaan bagaimana menggali diri untuk mengukir prestasi adalah memulai dengan menulis yang kita sukai. Selain itu juga bisa dari yang dialami atau dikuasai. Semua itu bisa dituliskan dalam berbagai bentuk untuk menginspirasi: puisi, pantun, cerpen, novel, atau kisah inspiratif.

Memiliki ketrampilan menulis ternyata tidak begitu saja, tetapi membutuhkan proses dan perjuangan. Semangat dan ketekunan. Tidak mudah menyerah dan mau terus berusaha. Seperti pengalaman Ibu Aam yang  pernah bergabung di KBMN di gelombang 8 dan tidak lulus. Namun beliau memupuk kembali semangat untuk mengikuti kembali di gelombang 12 dan akhirnya lulus hingga mendapatkan prestasi. Pengalaman ini adalah sebuah keteladanan yang bisa diikuti. Bahkan, buku solonya lahir dari BM 12. Buku solo yang menggarisbawahi bahwa sebuah mimpi dapat diwujudkan dengan semangat, kemauan, dan laku nyata.




Setiap pengalaman dibukukan supaya  menjadi jejak literasi. Spirit ini rupanya yang membuat Ibu Aam bisa menerbitkan buku – buku selanjutnya. Dari pengalaman menjadi moderator kelas menulis, terbitlah buku Kunci Sukses Menjadi Moderator Online. Dari berbagai pengalaman menjadi juara menulis, menjadi kurator, menjadi editor, terbitlah buku Rajin Menulis Berbuah Manis.

Tips dari Ibu Aam agar bisa produktif dalam menulis dan menghasilkan buku adalah ikut menulis bareng (nubar) buku antologi. Untuk menulis 1 minggu, 1 hari 10 halaman A4 sehingga 5 hari menjadi 50 halaman. Jika dibuat A5 akan menjadi 100 halaman. Sisanya 2 hari untuk edit dan layout. Untuk bisa menyelesaikan sebuah tulisan diperlukan niat dan motivasi, bisa juga memilih tokoh sebagai panutan untuk memompa semangat.

Banyak pengalaman yang dibagikan oleh Ibu Aam sebagai narasumber pada pertemuan ketiga ini. Pengalaman yang dapat dijadikan inspirasi dan motivasi untuk terus menulis demi menggali potensi yang siapa tahu nantinya akan diikuti oleh prestasi. Pendek kata, coba dulu saja. Setelah itu ikuti gelora dan alurnya.

Burung belibis burung nuri

Mari menulis untuk menggali potensi diri

Burung goffin makan manggis

Mari rajin menulis siapa tahu berbuah manis



 

Rabu, 11 Januari 2023

Menjaga Nyala Passion Untuk Menulis


Judul               : Menjaga Nyala  Passion Untuk Menulis

Resume ke -    : 2

Gelombang      : 28

Tanggal           : 11 Januari 2023

Tema               : Menjadikan Menulis Sebagai Passion

Narasumber     : Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd.

Moderator       : Widya Setianingsih, S. Ag.

 

Pertemuan kedua KBMN hari ini dibuka dengan puisi yang apik dari moderator, Ibu Widya Setianingsih, S. Ag. Diksi yang begitu kaya membuat terkesima. Disusul dengan motivasi dari Ibu Ratu Antologi, Dra. Sri Sugiastuti, M. Pd. Sebagai narasumber hari ini. Beliau mengingatkan bahwa setiap peserta memiliki potensi luar biasa dan harus dilejitkan di dunia literasi, mau berproses, mau keluar dari zona nyaman, dan berani mengambil tantangan.

Ibu Dra. Sri Sugiastuti, M. Pd. menekankan pentingnya passion dalam menulis. Passion dapat dimaknai sebagai gairah. Jika gairah itu tidak pernah padam, maka kegiatan menulis tidak akan terhenti. Serasa masih ada yang kurang jika belum menulis. Menulis menjadi sebuah kebutuhan, bukan lagi beban. Tantangannya adalah menjaga passion dan menyalurkannya. Pertanyaannya adalah mampukah menulis menjadi sebuah kebutuhan atau food suplemen yang akan membawa kepada kemuliaan?

Kendala yang umumnya dihadapi ketika akan menulis adalah merasa tidak bakat menulis, tidak memiliki waktu, tidak memiliki ide, tidak mau dikritik, dan tidak suka menulis. Ada 3 tips untuk mengatasi kendala ini yaitu menemukan jawaban dari pertanyaan: Mengapa kita menulis? Bagaimana cara kita menulis? Kapan kita menulis.

Setiap orang memiliki alasan untuk menulis. Salah satu alasan itu adalah bermanfaat bagi orang lain. Ada banyak cara untuk menulis. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah membaca untuk menemukan ide atau gagasan, memiliki mentor yang baik, dan menggunakan pengalaman diri sendiri maupun orang lain. Menentukan tujuan, menentukan genre, menentukan segmen pembaca, membuat outline, dan mengumpulkan materi juga akan memudahkan dalam proses menulis.

Proses menulis mula memang membutuhkan kesabaran. Ketika memulai menulis, akan lebih baik fokus pada ketekunan atau persistence. Tidak berpikir untuk menjadi sempurna. Tidak idealis. Menulis semampunya terlebih dahulu.

Ketika sudah berhasil untuk menyelesaikan sebuah tulisan atau naskah kasar, sebelum dipublikasikan, alangkah lebih baik untuk membaca ulang. Jika diperlukan, mengedit dan merevisi. Jika ada gairah, semoga kegiatan menulis menjadi lebih mudah. Jika menulis sudah menjadi hal yang mudah, pastilah akan semakin bergairah dan karya pun kian bertambah.

Sebagai penutup, Ibu Dra. Sri Sugiastuti, M. Pd. Mengajak peserta untuk menulis guna menuju kebaikan, sebagai ibadah, dan bisa mulia di mata Allah.

Hari kamis malam Jumat Kliwon

Mari menjadikan menulis sebagai passion.

Kita bertemu lagi di resume pertemuan yang ketiga

Salam sehat dan bahagia


 

Senin, 09 Januari 2023

Mengapa harus menulis setiap hari?

 


Judul               : Mengapa harus menulis setiap hari?

Resume ke -    : 1

Gelombang      : 28

Tanggal           : 9 Januari 2023

Tema               : Menulislah Setiap Hari

Narasumber     : Dr. wijaya Kusumah

Moderator       : Dail Ma’ruf, M. Pd.

 

Hari ini adalah pertemuan pertama dari Kelas Belajar Menulis Nusantara gelombang ke – 28. Saya sangat antusias mengikuti kelas ini. Ada 30 pertemuan. Saya ingin belajar dari para narasumber demi menghayati motto belajar sepanjang hayat.

Pada pertemuan pertama ini narasumbernya adalah Dr. Wijaya Kusumah atau yang biasa dipanggil dengan sebutan Om Jay. Temanya adalah “Menulislah Setiap Hari”. Saya sangat heran dan bertanya – tanya, “Mengapa harus menulis setiap hari?” Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan ini, tentu saya harus menyimak penjelasannya melalui WAG.

Penjelasan Om Jay hari ini diawali dengan harapan bahwa setiap guru bisa memiliki satu buku solo sehingga di angkatan ke -28 ini bisa sekitar 1.000 guru yang mempunyai buku solo... wow! Sebuah tantangan yang luar biasa.

Jika mengulik CV dari Om Jay, beliau ini adalah seorang guru panutan. Sungguh lengkap peran yang diembannya. Beliau adalah seorang Teacher, Trainer, Writer, Motivator, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, Simposium, Workshop PTK dan TIK, Edupreneurship, Pendidikan Karakter Bangsa, Konsultan manajemen pendidikan, serta Praktisi ICT.

Setelah membaca tulisan Om Jay di blog beliau, saya mulai memahami bahwa menulis setiap hari akan membawa banyak manfaat. Menurut Om Jay, dengan menulis setiap hari maka kemampuan menulis akan semakin terasah, semakin terampil, dan semakin bermutu isi tulisannya. Seorang penulis menjadi terkenal tidak serta merta, namun memerlukan proses. Proses yang bisa dilalui adalah menulis setiap hari dengan hati.

Menulis bisa kapan saja. Pagi, siang, sore, malam, atau menjelang tidur. Masih menurut Om Jay, menulis setiap hari dengan hati sebelum tidur dapat menjadi obat hati untuk mendekat kepada Ilahi.

Kemalasan membaca dan menulis adalah salah satu kendala. Kendala ini harus dihilangkan dengan komitmen yang tinggi sehingga kita mampu untuk menulis setiap hari dengan hati sehingga dapat melihat dan menemukan yang terjadi.

Triks lain untuk dapat menulis setiap hari adalah membaca tulisan orang lain. Dari tulisan orang lain kita bisa banyak belajar. Salah satunya belajar melepas kesombongan dan merasa tulisan kita paling hebat. Bukan tidak mungkin bahwa dari membaca tulisan orang lain justru kita akan mendapatkan ide – ide untuk tulisan kita.

Bagi penulis pemula, menulis dapat diawali dari hal – hal yang disukai dan dikuasai. Dengan begitu, menulis akan menjadi lebih mudah. Hem, benar juga ya.

Pendek kata, menulis setiap hari dengan hati itu akan mendatangkan banyak manfaat, keajaiban – keajaiban mungkin terjadi. Adanya penghasilan tambahan, prestasi, ketenaran, atau kesempatan – kesempatan lain yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya seperti yang pernah Om Jay alami yaitu bertemu presiden atau tokoh – tokoh lainnya. Wah...wah...wah...benar – benar banyak keajaiban yang mungkin terjadi dari menulis setiap hari.

    Mengakhiri tulisan ini, berikut kutipan pesan dari Om Jay pada pertemuan pertama ini, “Menulis setiap hari itu harus ikhlas. Hanya memberi tak harap kembali. Bagi ilmu setiap hari dan bagi pengalaman kepada semua orang.